Cari Blog Ini

Rabu, 27 Februari 2013

Mukjizat Indra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

 
 
Dari mulut Nabi Muhammad SAW, mun¬cullah kemukjizatan. Yaitu suaranya dan air ludahnya, yang tidak hanya ha¬rum tapi juga membawa manfaat.

Ummu Ma’bad Radhiyallahu ’Anha mengatakan, “Rasulullah memiliki nada suara yang cukup keras.” (HR Ath-Tha¬barani, Al-Hakim, Ibnu Sa’ad, dan lainnya).

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Mu’adz menyebutkan, “Rasulullah berkhutbah kepada kami di Mina, dan Allah membukakan pende¬ngaran kami, sehingga kami benar-benar dapat mendengar apa yang diucapkan dalam khutbahnya, meskipun kami ber¬ada di dalam kemah-kemah kami.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Dara¬mi, dan lain¬nya).

Bisa dibayangkan, sekarang, untuk bisa bicara dengan orang banyak, sese¬orang harus menggunakan loud speaker. Maka adalah suatu mukjizat ketika pada waktu itu Nabi SAW dalam jarak begitu jauh suaranya bisa terdengar dari kemah-kemah para haji di Mina.

Jadi hadits Ummu Ma’bad yang me¬ngatakan bahwa Nabi memiliki suara yang cukup keras dimengerti dalam dua makna. Pertama, memang suara beliau lebih keras dari orang kebanyakan. Dan ke¬dua, “keras” itu dalam arti memiliki ge¬lombang suara yang panjang, sehingga menjangkau orang-orang yang jauh dari dirinya.

Ummu Hani’ binti Abu Thalib menga¬takan, “Sesungguhnya aku benar-benar dapat mendengar suara bacaan Rasul¬ullah SAW meskipun aku berada di atas tempat tidurku, yakni suara bacaannya da¬lam shalat malam hari.” (HR Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

Abdullah bin Buraidah menceritakan dari ayahnya, yang mengatakan, “Kami shalat bersama Rasulullah SAW. Setelah selesai dari shalatnya, beliau menghadapkan dirinya kepada kami da¬lam keadaan bersemangat, lalu berseru dengan suara keras, sehingga suaranya terdengar oleh kaum wanita yang berada di dalam kemahnya masing-masing. Da¬lam sabdanya itu beliau mengatakan, ‘Wahai orang-orang yang telah masuk Islam, sedang iman masih belum mere¬sap ke dalam hatinya, janganlah kalian mencela sesama muslim dan jangan pula mencari-cari kelemahan mereka, karena sesungguhnya barang siapa mencari-cari kelemahan saudara semuslimnya, nis¬caya Allah bakal membeberkan aibnya dan menempatkan kelemahannya, mes¬kipun ia tertutup berada di dalam rumah¬nya’.” (HR Ath-Thabarani).

Air Ludah Nabi
Pada umumnya air ludah manusia berbau atau menjijikkan. Namun, air ludah yang keluar dari mulut Nabi begitu harum. Bak minyak wangi yang semerbak memenuhi udara sekitar.

Tidak hanya harum, air ludah Nabi juga bermanfaat untuk kesehatan. Di an¬taranya dapat mengobati berbagai luka.

Wa’il bin Hujr RA mengatakan, “Per¬nah kudatangkan seember air kepada Nabi SAW lalu beliau minum darinya dan mengeluarkannya kembali ke dalam ember. Kemudian menuangkan airnya ke dalam sumur. Atau beliau minum dari ember itu, lalu mengeluarkannya kembali langsung ke dalam sumur. Maka muncul¬lah bau harum dari sumur itu seperti bau minyak kasturi.” (HR Ahmad, Ath-Tha¬barani, dan Ya’qub bin Sufyan).

Umairah binti Mas’ud Radhiyallahu ’Anha menceritakan, ia bersama kelima saudarinya masuk menemui Nabi SAW untuk menyatakan janji setia mereka kepada beliau. Mereka menjumpai beliau sedang makan dendeng lalu beliau me¬motong-motong dendeng itu dengan mu¬lutnya untuk mereka. “Beliau memberikan sepotong dendeng kepadaku, lalu aku lang¬sung mengunyahnya.” Masing-ma¬sing mereka mendapatkan sepotong dendeng. Maka sejak itu hingga mereka me¬ninggal dunia tidak lagi tercium bau yang tidak enak dari mulut mereka (HR Ath-Thabarani).

Begitu juga cerita yang dibawakan oleh Abu Usaid dan Sahl bin Sa’d. “Ra¬sulullah mendatangi sumur Budh’ah, lalu ber¬wudhu’ dari sebuah timba dan me¬ngembalikan timbanya ke dalam sumur, dan sekali lagi beliau berkumur dan mem¬buang airnya langsung ke dalam sumur serta meludah ke dalamnya dan juga mi¬num sebagian dari airnya. Sejak saat itu pada masa Nabi SAW bila ada orang yang terkena penyakit, mereka menya¬ran¬kan, ‘Sebaiknya mandikanlah dia dari air sumur Budha’ah.’

Setelah si pasien dimandikan, sem¬buhlah ia dari sakitnya, seakan-akan se¬perti orang yang baru terlepas dari ikatan (sihir).” (Ibnu Sa’ad).

Demikian pula kesaksian Anas bin Malik, pelayan Rasulullah. Ia mengata¬kan, “Kami datang ke Quba bersama Ra¬sulullah SAW hingga sampai di sebuah sumur yang ada di sebuah kebun. Lalu beliau mengambil air minum dari sumur tersebut yang diangkut dengan keledai. Selanjutnya, kami berada di tempat itu sepanjang siang hari. Tapi ternyata air sumur itu telah kering, maka Rasulullah SAW berkumur dari sebuah timba dan me¬muntahkannya kembali ke dalam tim¬ba, lalu mengembalikan timba itu ke da¬lam sumur, tidak lama kemudian sumur itu berair kembali.” (Ibnu Sa’d dan Ibnu Asakir).

Sahabat Razinah mengatakan, “Ra¬sul¬ullah SAW menghormati hari Asyura, sehingga, bila tiba hari itu, beliau mengundang anak-anak asuhnya dan anak-anak Fathimah yang masih menyu-su, lalu beliau meludahi mulut mereka dan bersabda kepada ibunya masing-masing, ‘Jangan kalian susui mereka sampai ma¬lam hari.’ Ternyata air ludah beliau cukup mengenyangkan mereka.” (HR Abu Ya’la dan Ath-Thabarani).

Mengobati Luka
Abdullah bin Buraidah mengatakan, “Aku pernah mendengar ayahku bercerita bahwa Rasulullah SAW mengobati kaki ‘Amr bin Mu’adz dengan air ludahnya ke¬tika kakinya terpotong, tidak lama kemu¬dian kakinya sembuh.” (HR Ibnu Hibban).

Sahl bin Sa’d menceritakan, dia per¬nah mendengar Nabi SAW bersabda da¬lam Perang Khaibar, “Aku benar-benar akan menyerahkan panji-panji ini kepada seseorang yang dengan melaluinya Allah bakal menganugerahkan kemenangan.”

Maka mereka pun bangkit berdiri. Se¬tiap orang berharap, dirinyalah yang ba¬kal terpilih untuk diserahi tugas tersebut.
Namun mendadak beliau bertanya, “Di manakah Ali?”
Ketika dijawab bahwa Ali sedang menderita sakit mata, beliau menyu¬ruh¬nya untuk menghadap.
Setelah Ali menghadap, beliau meng¬obati kedua mata Ali dengan air ludahnya. Saat itu juga mata Ali sembuh seperti se¬dia kala, seakan-akan tidak pernah sakit mata sebelumnya (HR Al-Bukhari).

Ummu Musa menceritakan, ia pernah mendengar Ali mengatakan, “Aku tidak pernah lagi mengalami sakit mata dan ti¬dak pula merasa pusing sejak Rasulullah SAW mengusap wajahku dan mengobati sakit mataku dengan air ludahnya pada saat Perang Khaibar, saat beliau menye¬rahkan panji-panji pasukan kaum mus¬limin kepadaku.” (HR Ahmad dan Abu Ya’la).

Diriwayatkan dari Jurhud, ia datang menghadap kepada Nabi SAW yang saat itu telah disajikan jamuan makan di ha¬dapan beliau. Jurhud menjulurkan tangan kirinya untuk menyantap jamuan itu, ka¬rena tangan kanannya menderita sakit, maka Nabi SAW bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!”
Jurhud menjawab, “Wahai Rasul¬ul¬lah, tangan kanan kananku sakit.”
Nabi pun mengobatinya dengan air lu¬dahnya, maka sejak saat itu tangan Jur¬hud tidak pernah sakit lagi hingga tutup usia. (HR Ath-Thabarani).

Rifa’ah binti Rafi RA mengatakan, “Aku terkena anak panah dalam Perang Ba¬dar hingga melukai mataku, maka Ra¬sulullah SAW mengobati mataku dengan air ludahnya dan berdoa untuk kesem¬buhanku. Sesudah itu mataku sembuh seperti sediakala.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Hakim).

Penyembuhan penyakit mata dengan air ludah Nabi SAW terjadi juga pada Abu Dzar, sebagaimana dituturkan Abdurrah¬man bin Al-Harits bin Ubaid, yang meri¬wayatkan dari kakeknya, yang menga¬takan, “Dalam Perang Uhud salah satu mata Abu Dzar terluka, lalu Nabi SAW mengobatinya dengan air ludahnya. Se¬sudah itu matanya pun sembuh dan men-jadi yang tersehat di antara keduanya.” (HR Abu Ya’la).

Yazid bin Abu Ubaid mengatakan, “Aku melihat bekas sabetan pedang pada kaki Salamah, maka aku bertanya, ‘Hai Abu Muslim, ini bekas luka apa?’
Dia menjawab, ‘Ini adalah bekas luka kena sabetan pedang dalam Perang Khaibar. Saat itu orang-orang mengata¬kan: Salamah terluka! Selanjutnya, aku datang kepada Nabi SAW dan beliau meludahi lukaku sebanyak tiga kali, maka sejak itu aku tidak pernah merasa sakit lagi dari bekas lukaku ini hingga seka¬rang.” (HR Al-Bukhari).

Abu Qatadah RA menceritakan, “Ra¬sulullah SAW menyusulku pada hari Pe¬rang Dzu Qird, lalu beliau memandangku dan bertanya, ‘Luka apakah yang menge¬nai wajahmu?’
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ini luka karena anak panah musuh yang mengenaiku.’
Beliau bersabda, ‘Mendekatlah!’
Aku pun mendekat dan beliau melu¬dahi lukaku, maka sejak saat itu lukaku pun sembuh’.” (HR Al-Hakim).
Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi mencerita¬kan dari sahabat-sahabat Nabi, “Demi Allah, tidaklah sekali-kali Rasulullah SAW mengeluarkan dahak dan kebetulan me¬ngenai tangan salah seorang di antara me¬reka melainkan orang itu pasti meng¬gosok-gosokkan dahak Nabi SAW (yang harum) itu ke wajah dan kulitnya.” (HR Al-Bukhari).
http://majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/1977-wajah-nabi-muhammad-saw-mukjizat-indra-rasulullah akses 23-02-2013

0 komentar:

Posting Komentar