skip to main |
skip to sidebar

Dari
mulut Nabi Muhammad SAW, mun¬cullah kemukjizatan. Yaitu suaranya dan
air ludahnya, yang tidak hanya ha¬rum tapi juga membawa manfaat.
Ummu Ma’bad Radhiyallahu ’Anha mengatakan, “Rasulullah memiliki nada
suara yang cukup keras.” (HR Ath-Tha¬barani, Al-Hakim, Ibnu Sa’ad, dan
lainnya).
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin
Mu’adz menyebutkan, “Rasulullah berkhutbah kepada kami di Mina, dan
Allah membukakan pende¬ngaran kami, sehingga kami benar-benar dapat
mendengar apa yang diucapkan dalam khutbahnya, meskipun kami ber¬ada di
dalam kemah-kemah kami.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Dara¬mi, dan
lain¬nya).
Bisa dibayangkan, sekarang, untuk bisa bicara dengan
orang banyak, sese¬orang harus menggunakan loud speaker. Maka adalah
suatu mukjizat ketika pada waktu itu Nabi SAW dalam jarak begitu jauh
suaranya bisa terdengar dari kemah-kemah para haji di Mina.
Jadi hadits Ummu Ma’bad yang me¬ngatakan bahwa Nabi memiliki suara yang
cukup keras dimengerti dalam dua makna. Pertama, memang suara beliau
lebih keras dari orang kebanyakan. Dan ke¬dua, “keras” itu dalam arti
memiliki ge¬lombang suara yang panjang, sehingga menjangkau orang-orang
yang jauh dari dirinya.
Ummu Hani’ binti Abu Thalib
menga¬takan, “Sesungguhnya aku benar-benar dapat mendengar suara bacaan
Rasul¬ullah SAW meskipun aku berada di atas tempat tidurku, yakni suara
bacaannya da¬lam shalat malam hari.” (HR Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah,
dan Al-Hakim).
Abdullah bin Buraidah menceritakan dari ayahnya,
yang mengatakan, “Kami shalat bersama Rasulullah SAW. Setelah selesai
dari shalatnya, beliau menghadapkan dirinya kepada kami da¬lam keadaan
bersemangat, lalu berseru dengan suara keras, sehingga suaranya
terdengar oleh kaum wanita yang berada di dalam kemahnya masing-masing.
Da¬lam sabdanya itu beliau mengatakan, ‘Wahai orang-orang yang telah
masuk Islam, sedang iman masih belum mere¬sap ke dalam hatinya,
janganlah kalian mencela sesama muslim dan jangan pula mencari-cari
kelemahan mereka, karena sesungguhnya barang siapa mencari-cari
kelemahan saudara semuslimnya, nis¬caya Allah bakal membeberkan aibnya
dan menempatkan kelemahannya, mes¬kipun ia tertutup berada di dalam
rumah¬nya’.” (HR Ath-Thabarani).
Air Ludah Nabi
Pada
umumnya air ludah manusia berbau atau menjijikkan. Namun, air ludah yang
keluar dari mulut Nabi begitu harum. Bak minyak wangi yang semerbak
memenuhi udara sekitar.
Tidak hanya harum, air ludah Nabi juga bermanfaat untuk kesehatan. Di an¬taranya dapat mengobati berbagai luka.
Wa’il bin Hujr RA mengatakan, “Per¬nah kudatangkan seember air kepada
Nabi SAW lalu beliau minum darinya dan mengeluarkannya kembali ke dalam
ember. Kemudian menuangkan airnya ke dalam sumur. Atau beliau minum dari
ember itu, lalu mengeluarkannya kembali langsung ke dalam sumur. Maka
muncul¬lah bau harum dari sumur itu seperti bau minyak kasturi.” (HR
Ahmad, Ath-Tha¬barani, dan Ya’qub bin Sufyan).
Umairah binti
Mas’ud Radhiyallahu ’Anha menceritakan, ia bersama kelima saudarinya
masuk menemui Nabi SAW untuk menyatakan janji setia mereka kepada
beliau. Mereka menjumpai beliau sedang makan dendeng lalu beliau
me¬motong-motong dendeng itu dengan mu¬lutnya untuk mereka. “Beliau
memberikan sepotong dendeng kepadaku, lalu aku lang¬sung mengunyahnya.”
Masing-ma¬sing mereka mendapatkan sepotong dendeng. Maka sejak itu
hingga mereka me¬ninggal dunia tidak lagi tercium bau yang tidak enak
dari mulut mereka (HR Ath-Thabarani).
Begitu juga cerita yang
dibawakan oleh Abu Usaid dan Sahl bin Sa’d. “Ra¬sulullah mendatangi
sumur Budh’ah, lalu ber¬wudhu’ dari sebuah timba dan me¬ngembalikan
timbanya ke dalam sumur, dan sekali lagi beliau berkumur dan mem¬buang
airnya langsung ke dalam sumur serta meludah ke dalamnya dan juga mi¬num
sebagian dari airnya. Sejak saat itu pada masa Nabi SAW bila ada orang
yang terkena penyakit, mereka menya¬ran¬kan, ‘Sebaiknya mandikanlah dia
dari air sumur Budha’ah.’
Setelah si pasien dimandikan,
sem¬buhlah ia dari sakitnya, seakan-akan se¬perti orang yang baru
terlepas dari ikatan (sihir).” (Ibnu Sa’ad).
Demikian pula
kesaksian Anas bin Malik, pelayan Rasulullah. Ia mengata¬kan, “Kami
datang ke Quba bersama Ra¬sulullah SAW hingga sampai di sebuah sumur
yang ada di sebuah kebun. Lalu beliau mengambil air minum dari sumur
tersebut yang diangkut dengan keledai. Selanjutnya, kami berada di
tempat itu sepanjang siang hari. Tapi ternyata air sumur itu telah
kering, maka Rasulullah SAW berkumur dari sebuah timba dan
me¬muntahkannya kembali ke dalam tim¬ba, lalu mengembalikan timba itu ke
da¬lam sumur, tidak lama kemudian sumur itu berair kembali.” (Ibnu Sa’d
dan Ibnu Asakir).
Sahabat Razinah mengatakan, “Ra¬sul¬ullah
SAW menghormati hari Asyura, sehingga, bila tiba hari itu, beliau
mengundang anak-anak asuhnya dan anak-anak Fathimah yang masih menyu-su,
lalu beliau meludahi mulut mereka dan bersabda kepada ibunya
masing-masing, ‘Jangan kalian susui mereka sampai ma¬lam hari.’ Ternyata
air ludah beliau cukup mengenyangkan mereka.” (HR Abu Ya’la dan
Ath-Thabarani).
Mengobati Luka
Abdullah bin Buraidah
mengatakan, “Aku pernah mendengar ayahku bercerita bahwa Rasulullah SAW
mengobati kaki ‘Amr bin Mu’adz dengan air ludahnya ke¬tika kakinya
terpotong, tidak lama kemu¬dian kakinya sembuh.” (HR Ibnu Hibban).
Sahl bin Sa’d menceritakan, dia per¬nah mendengar Nabi SAW bersabda
da¬lam Perang Khaibar, “Aku benar-benar akan menyerahkan panji-panji ini
kepada seseorang yang dengan melaluinya Allah bakal menganugerahkan
kemenangan.”
Maka mereka pun bangkit berdiri. Se¬tiap orang berharap, dirinyalah yang ba¬kal terpilih untuk diserahi tugas tersebut.
Namun mendadak beliau bertanya, “Di manakah Ali?”
Ketika dijawab bahwa Ali sedang menderita sakit mata, beliau menyu¬ruh¬nya untuk menghadap.
Setelah Ali menghadap, beliau meng¬obati kedua mata Ali dengan air
ludahnya. Saat itu juga mata Ali sembuh seperti se¬dia kala, seakan-akan
tidak pernah sakit mata sebelumnya (HR Al-Bukhari).
Ummu Musa
menceritakan, ia pernah mendengar Ali mengatakan, “Aku tidak pernah lagi
mengalami sakit mata dan ti¬dak pula merasa pusing sejak Rasulullah SAW
mengusap wajahku dan mengobati sakit mataku dengan air ludahnya pada
saat Perang Khaibar, saat beliau menye¬rahkan panji-panji pasukan kaum
mus¬limin kepadaku.” (HR Ahmad dan Abu Ya’la).
Diriwayatkan
dari Jurhud, ia datang menghadap kepada Nabi SAW yang saat itu telah
disajikan jamuan makan di ha¬dapan beliau. Jurhud menjulurkan tangan
kirinya untuk menyantap jamuan itu, ka¬rena tangan kanannya menderita
sakit, maka Nabi SAW bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!”
Jurhud menjawab, “Wahai Rasul¬ul¬lah, tangan kanan kananku sakit.”
Nabi pun mengobatinya dengan air lu¬dahnya, maka sejak saat itu tangan
Jur¬hud tidak pernah sakit lagi hingga tutup usia. (HR Ath-Thabarani).
Rifa’ah binti Rafi RA mengatakan, “Aku terkena anak panah dalam Perang
Ba¬dar hingga melukai mataku, maka Ra¬sulullah SAW mengobati mataku
dengan air ludahnya dan berdoa untuk kesem¬buhanku. Sesudah itu mataku
sembuh seperti sediakala.” (HR Ath-Thabarani dan Al-Hakim).
Penyembuhan penyakit mata dengan air ludah Nabi SAW terjadi juga pada
Abu Dzar, sebagaimana dituturkan Abdurrah¬man bin Al-Harits bin Ubaid,
yang meri¬wayatkan dari kakeknya, yang menga¬takan, “Dalam Perang Uhud
salah satu mata Abu Dzar terluka, lalu Nabi SAW mengobatinya dengan air
ludahnya. Se¬sudah itu matanya pun sembuh dan men-jadi yang tersehat di
antara keduanya.” (HR Abu Ya’la).
Yazid bin Abu Ubaid
mengatakan, “Aku melihat bekas sabetan pedang pada kaki Salamah, maka
aku bertanya, ‘Hai Abu Muslim, ini bekas luka apa?’
Dia menjawab,
‘Ini adalah bekas luka kena sabetan pedang dalam Perang Khaibar. Saat
itu orang-orang mengata¬kan: Salamah terluka! Selanjutnya, aku datang
kepada Nabi SAW dan beliau meludahi lukaku sebanyak tiga kali, maka
sejak itu aku tidak pernah merasa sakit lagi dari bekas lukaku ini
hingga seka¬rang.” (HR Al-Bukhari).
Abu Qatadah RA
menceritakan, “Ra¬sulullah SAW menyusulku pada hari Pe¬rang Dzu Qird,
lalu beliau memandangku dan bertanya, ‘Luka apakah yang menge¬nai
wajahmu?’
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ini luka karena anak panah musuh yang mengenaiku.’
Beliau bersabda, ‘Mendekatlah!’
Aku pun mendekat dan beliau melu¬dahi lukaku, maka sejak saat itu lukaku pun sembuh’.” (HR Al-Hakim).
Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi
mencerita¬kan dari sahabat-sahabat Nabi, “Demi Allah, tidaklah
sekali-kali Rasulullah SAW mengeluarkan dahak dan kebetulan me¬ngenai
tangan salah seorang di antara me¬reka melainkan orang itu pasti
meng¬gosok-gosokkan dahak Nabi SAW (yang harum) itu ke wajah dan
kulitnya.” (HR Al-Bukhari).
http://majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/1977-wajah-nabi-muhammad-saw-mukjizat-indra-rasulullah akses 23-02-2013
0 komentar:
Posting Komentar