skip to main |
skip to sidebar

Tiada
yang lebih indah, tiada yang lebih istimewa, tiada yang lebih dahsyat
daripada Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena
itulah, para pecinta beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah
berhenti menghaturkan shalawat serta salam kepada beliau shallallahu
alaihi wa sallam. Para perindu beliau shallallahu alaihi wa sallam
tiada lelah merangkai puja puji yang terbaik untuk beliau shallallahu
alaihi wa sallam. Tiada seorang wanitapun di muka bumi ini yang
melahirkan bayi yang lebih istimewa dari Baginda Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam.
Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa
taala berfirman yang artinya: “Katakanlah, ‘Jika ayah-ayah, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang yang fasik.”(at-Taubah:24)
Anas bin Malik berkata: “Tidak
ada satu malam pun berlalu kecuali aku menyaksikan Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam.” Karena rasa cinta yang begitu besar,
sahabat yang satu ini setiap hari mesti menemui baginda Nabi shallallahu
alaihi wa sallam.
Tidak ada hal yang lebih disenangi para
sahabat daripada pertemuan dengan Baginda Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Ketika beliau shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia, para
sahabat merasakan kehilangan yang tiada tara. Sebagian dari mereka
tidak sanggup lagi di kota Madinah. Di antara sahabat yang demikian
adalah Bilal RA. Ia meninggalkan Madinah dan memilih tinggal di daerah
bernama Darriyah.
Di suatu malam, setelah genap setahun
meninggalkan Madinah, dia bangun dari tidur sembari menangis. Istri
Bilal yang merasa heran menghampirinya dan bertanya, “apa yang membuat
anda menangis?” Bilal RA (Radhiyallahu Anhu/ semoga Allah meridha’i
beliau) menjawab, dalam tidur tadi aku bermimpi bertemu Baginda Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shallallahu alaihi wa
sallam bertanya kepadaku ‘Kenapa engkau menjauh wahai Bilal? Bukankah
sekarang saatnya engkau mengunjungiku?.”
Pagi harinya Bilal RA
bertolak menuju Madinah, sesampainya di kota itu Bilal RA menghampiri
makam Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bersimpuh. Dia
memeluk makam junjungannya itu. Abu Bakar ash-Shiddiq RA yang mendengar
kedatangan Bilal langsung datang ke makam Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam.
Setelah puas berziarah, Bilal menghampiri Abu Bakar
RA. Bilal tak kuasa menahan tangis tatkala mengingat dahulu Abu Bakar
RA adalah adalah sahabat yang senantiasa mendampingi Baginda Rasul
shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar RA pun demikian. Ia sedih ketika
mengenang Bilal berkhidmat (mengabdi) kepada Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam., menenteng sandal beliau shallallahu alaihi wa sallam
dan membawakan tongkat beliau shallallahu alaihi wa sallam.
Di
tengah suasana haru itu Abu Bakar RA berkata: “Wahai Bilal, sudikah kamu
mengumandangkan azan untuk kami sebagaimana dahulu kamu mengumandangkan
azan untuk Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?”
Dengan berat, Bilal RA menolak permintaan itu, “maafkan aku, aku sudah
tidak mampu lagi azan setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
meninggal.”
Tiba-tiba Umar bin Khattab RA datang menghampiri
mereka. Ia minta Bilal RA agar bersedia mengumandangkan azan, Bilal
tetap menampik permintaan itu. “Aku tadi menolak permintaan Abu Bakar
dan sekarang engkau memohon wahai Umar. Ketahuilah, dulu setiap kali
selesai azan, aku menghampiri rumah Rasulullah dan berkata ‘ waktunya
shalat wahai Rasulullah’ dan sekarangg aku mesti mengucapkan kalimat itu
kepada siapa?”
Akhirnya Abu Bakar RA dan Umar RA tidak dapat
memaksa Bilal RA. Mereka hanya menangis mengenang masa-masa indah
bersama Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian
datanglah Hasan dan Husein dua cucu Baginda Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Kala itu Hasan berusia 9 tahun, dan Husein 8 tahun. Bilal
langsung mememeluk mereka berdua. Ia mendekap erat dua bocah itu
lantaran merasakan bau harum Baginda Rasul shallallahu alaihi wa sallam
masih tersisa di tubuh keduanya.
Hasan dan Husein berkata
kepada Bilal, “sudikah anda mengumandangkan azan seperti dulu anda
lakukan untuk kakek kami? Kami rindu dengan suara itu. Kami ingin
mendengarkan suara itu. Kami ingin mendengar azan itu.” Tangis Bilal
kian menjadi. Dengan suara parau dia berkata kepada kedua anak kecil
itu, “apa yang bakal aku utarakan kelak di hadapan Allah subhanahu wa
taala? Aku mampu menolak permintaan Abu Bakar RA dan Umar RA. Sekarang
apa yang bisa aku katakan kepada kalian wahai cucu Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam? Aku khawatir kalau menolak kalian, nanti
permintaanku di hari kiamat ditolak datuk kalian. Untuk kalian berdua
aku akan azan.”
Bilal berjalan menujur menara masjid Nabawi.
Begitu sampai di atas menara, dia mulai azan dengan lafal “allahu
akbar.” Suara merdu itu terdengar oleh penduduk Madinah. Mereka yang ada
di pasar serentak menghentikan kesibukan. Mereka langsung teringat
kumandang azan sewaktu bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
setahun lalu. Kemudian Bilal mengucapkan “allahu akbar” yang kedua.
Mendengar suara itu, penduduk Madinah yang berada di dalam rumah
berhamburan keluar. Tatkala Bilal mengucapkan “asyhadu alla ilaha
illallah,” seseorang berseru, “apakah Rasulullah hidup lagi?” Lalu pada
saat “asyhadu alla ilaha illallah” yang kedua bergema dari lisan Bilal,
para perempuan keluar mengira Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam hidup kembali. Seluruh penduduk Madinah pergi ke mesjid Nabawiy
sehingga kota itu menjadi lengang.
Sementara itu, tatkala Bilal
RA hendak menyerukan lafaz “asyhadu anna Muhammadar rasulullah” dia
berhenti lantaran tidak kuasa menahan kerinduan kepada Baginda
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dia dan seluruh penduduk
Madinah menangis karena mengenang momen-momen terindah bersama Baginda
Rasul shallallahu alaihi wa sallam.
Demikianlah rasa cinta para
sahabat terhadap Baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Begitu
mengenal insan termulia ini, mereka takkan mampu melupakannya.
Dikisahkan bahwa ketika Bilal RA mendekati ajalnya, anak-anaknya merasa
kebingungan. Mereka berkata, “Abah kami akan meninggalkan kami.”
Sementara itu Bilal RA merasa senang. “Betapa bahagia hatiku karena esok
aku akan bertemu dengan sang kekasih, Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam dan orang-orang yang dekat dengan Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam katanya.”
Rasa cinta yang mendalam kepada Baginda Nabi
shallallahu alaihi wa sallam juga dirasakan oleh Zaid bin ad-Datsina RA
salah seorang assabiqunal awwalun (orang-orang yang lebih dahulu masuk
Islam). Suatu ketika Zaid RA ditangkap dan disiksa oleh kaum musyrikin.
Seseorang berkata kepadanya saat itu, “wahai Zaid, apakah kamu senang
bila Muhammad sekarang di sini menggantikan dirimu disiksa sementara
kamu di rumah bersama keluargamu?”
Dengan lugas Zaid RA
menjawab, “Demi Allah, seandainya Muhammad sekarang di rumahnya tertusuk
duri aku takkan rela meski aku sekarang ada di rumahku, apalagi ia
mesti menggantikan diriku di sini.” Saat itu Zaid RA dalam keadaan
sekarat karena beratnya siksaan yang beliau terima.
(catatan
ulun: Zaid RA tidak rela Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
tersakiti meski hanya tertusuk duri, dan Zaid RA rela dirinya disiksa
asalkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu dalam keadaan
aman).
Abu Sufyan yang kala itu belum beriman berkata, “aku
belum pernah menyaksikan di antara manusia yang saling mencintai seperti
kuat dan mendalamnya rasa cinta para sahabat kepada Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam.
Kisah-kisah di atas mengingatkan
kita kepada sahabat-sahabat yang mengenal insan termulia, Baginda
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Apakah kita lupa pada sosok yang
paling agung ini? Masihkah wanita dan harta yang menggoda kita bakal
terus melupakan dari beliau? Demi Allah, seandainya Baginda Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam ada di tengah kita, niscaya kita akan
melupakan segala urusan kita lantaran menyaksikan makhluk terbaik dan
pribadi paling mulia itu. Karena itu mari kita jadikan maulid ini
sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam. Sepulang dari majelis ini, mari kita benahi iman kita.
Kita jadikan Beliau shallallahu alaihi wa sallam sebagai insan yang
paling kita cintai. Cinta kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam
adalah bagian dari kesempurnaan iman. Baginda Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, “Demi Allah, tidak sempurna iman seseorang di antara
kalian sampai diriku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri, hartanya,
keluarganya, orang tua, dan anak-anaknya.”
Mudah-mudahan kita bisa mengamalkan semua ini. Amien
Sumber:
Rekaman ceramah al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf
Majalah Cahaya Nabawiy edisi no 122, hlm 41-44
0 komentar:
Posting Komentar